kesiapan Mesin Filter konten di Internet seharga 211 Milyar Rupiah



Sejak Agustus kemarin, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah melakukan pengadaan barang dan jasa untuk filter atau penapisan konten negatif seperti pornografi di internet. Sudah sejauh mana kesiapan mesin tersebut?



Seperti diberitakan, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) keluar sebagai pemenang lelang pengadaan Peralatan dan Mesin Pengadaan Sistem Monitoring dan Perangkat Pengendali Situs Internet Bermuatan Negatif atau dikenal dengan mesin sensor internet.

Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan saat ini proses pengadaan mesin sensor internet tersebut sudah setengah jalan. Pengoperasiannya sendiri ditargetkan dapat dilakukan pada Desember 2017.

"Sekarang barang-barang sudah ada. Lantai atas sudah dibongkar (Gedung Kementerian Kominfo). Barang-barang sudah ada. Sekitar 50% sudah ada semua, yang lama itu ruang monitornya," ujarnya di Jakarta, Senin (6/11/2017).

Kominfo mengakui bahwa selama ini penanganan konten negatif di internet masih dilakukan secara manual, berdasarkan laporan masyarakat terlebih dahulu baru menapisnya. Dengan beroperasinya mesin sensor internet itu, nantinya penyensoran dapat dilakukan otomatis.

"Kita akan tetap cari, namanya sistem pencari aktif itu makanya kemarin kita adakan, secara aktif mencari. Nggak usah ditungguin, mesinnya itu terus mencari. (Di media sosial) selama di open, kalau close itu nggak bisa. Selama bisa diakses seperti mencari di Google, itu mesinnya bisa mencari," tuturnya.

Diketahui, lelang mesin sensor internet dimenangkan oleh PT INTI. BUMN tersebut sampai saat ini sedang memenuhi sesuai dengan permintaan dari Kominfo, di mana Kominfo baru akan membayarnya apabila barang tersebut sudah ada dan bisa beroperasi. Sebab, cara pembayarannya secara lump sum.

Seperti diketahui, nilai pagu paket mesin sensor internet ini mencapai Rp 211.872.500, sementara untuk nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) tercatat sebesar Rp 211.870.060.792. Sedangkan, PT Inti menang lelang dengan memberikan harga penawaran Rp 198.611.683.606 dan harga terkoreksi Rp 194.059.863.536 dengan skor 70 dan skor akhir 94.

sumber : https://inet.detik.com/law-and-policy/

saksi mata pelecehan di KRL Jakarta Kota, curhat di IG



Kasus pelecehan seksual terhadap wanita di KRL Commuter Line Jabodetabek masih kerap terjadi. Seperti yang dialami penumpang berikut ini hingga ceritanya jadi viral.

Penumpang bernama Virginia ini memang tidak mengalami pelecehan seksual secara langsung. Ia melihat kejadian tersebut di dekatnya. Bahkan di depan mata sendiri. Ia pun mengungkapkan kejadian itu lewat curhat di Instagram Stories.

Curhat Virginia ini kemudian menjadi viral di media sosial dan banyak yang membagikan ceritanya itu. Virginia menulis, saat naik KRL tujuan Bekasi, dia berdiri di belakang pelaku. Kondisi kereta penuh dan berdesakan.

Virginia menggambarkan sosok pelaku sebagai orang yang menyeramkan. Dia kemudian perlahan pindah dari posisinya. 

"Tatapannya tajem banget kayak penjahat dan gue udah semakin curiga dan takut. Pas di Manggarai makin banyak dong orang masuk, semakin desek-desekan dan nggak bisa gerak lagi. Kejadiannya pas banget jam 19.01 WIB, gue refleks lihat ke bawah (arah kaki dia) and you know what did he do? Dia ngeluarin anu-nya dan asyik mainin terus ngegesek anunya di bokong mbak-mbak di depan dia yang lagi sibuk main hp dan dengerin musik," tulis Virginia. 

Virginia, yang melihat aksi pelaku, langsung kaget dan ketakutan. Sebab, si pelaku pelecehan terus-menerus menatap Virginia. Virginia, yang ketakutan, langsung menelepon ayahnya. Dia juga mencoba meminta bantuan kepada penumpang yang berada di sebelahnya. Namun ternyata penumpang tersebut takut.

"Dia (pelaku) semakin ngeliatin gue karena dia sadar kalau gue tahu dia lagi ngelakuin pelecehan seksual. Gue deg-degan, lemes dan mau nangis. Bokap gue video call dan disuruh tunjukin mukanya dia ke arah bokap gue. Dia megang tangan gue kencang banget dan dicakar. Di situ gue langsung ngelawan dan memberanikan ngelihatin mas-mas ini secara sinis," cerita Virginia. 

Begitu kereta tiba di Stasiun Bekasi, Virginia langsung mengambil ancang-ancang. Ia langsung keluar dari kereta dan berusaha melewati desakan. Ia berlari untuk menemui petugas keamanan.

Namun rupanya si pelaku ikut mengejar Virginia. Wanita itu panik dan berusaha mencari petugas. Beruntung, ia akhirnya bertemu petugas keamanan. 

"Gue udah nyalip ke pintu buat keluar tapi mas-mas ini ngikutin gue juga dengan anunya masih kebuka. Dia ngejar gue karena dia tahu gue bakalan laporin dia. Pas gue laporin, mas-masnya menghilang dan tasnya dia tinggalin di gerbong. Diambil security dan polisi di stasiun. Di situ semua orang ditahan buat nggak keluar dulu karena security dan polisi lagi mencari ini orang," kata Virginia. 

VP Komunikasi Perusahaan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Eva Chairunisa mengatakan pelaku pelecehan seksual itu belum tertangkap. Ia mengimbau penumpang selalu waspada saat naik KRL dan segera melaporkan tindakan kriminal atau mencurigakan kepada petugas. 

"Kami juga ada pengamanan tertutup dan tidak jarang juga menangkap pelaku kriminal seperti copet dan lain-lain, namun kembali lagi karena memang ini ruang publik sehingga diperlukan kewaspadaan yang tinggi dari masing-masing pengguna. Karena memang tempat keramaian seperti transportasi publik dan ruang publik kerap menjadi incaran pelaku kriminal," kata Eva 

Marak Berita Hoax, Ini Cara Mudah Kenalinya



Menjelang tahun politik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau agar masyarakat tidak berseteru satu sama lain. Tahun politik yang dimaksud tak lain adalah momen pemilihan kepala daerah serentak 2018 dan pemilihan umum 2019.
"Pilih pemimpin yang baik setelah itu rukun kembali. Jangan sampai dibawa bertahun-tahun suasana Pemilu masih ada, kebencian diangkat-angkat terus," kata Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.
Imbauan Jokowi tersebut terkait dengan fenomena di masyarakat yang sering kali panas baik sebelum maupun sesudah pemilu tersebut.
Hal tersebut, juga terjadi salah satunya lantaran maraknya berita hoax atau bohong. Menurut Anggota Komisi I DPR Arief Suditomo mengatakan penyebaran berita hoax melalui media sosial akan semakin masif menjelang tahun politik.
"Penyebaran berita hoax itu sudah terjadi pada Pilkada serentak tahun 2017. Apalagi Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 yang berlangsung panas," kata Arief.
Oleh karena itu, Arief mengimbau pemerintah melalui Kementerian Kominfo dan lembaga terkait lainnya untuk melakukan sosialisasi antihoax ke masyarakat, terutama ke dunia pendidikan dan kelompok masyarakat, seperti diamanahkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Imbauan ini sudah terealisasi melalui gerakan mudamudigital. Dengan memanfaatkan gerakan ini, pemerintah secara intens mengedukasi generasi muda agar lebih bijak menggunakan media sosial, serta turut menyebarkan konten positif.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyadari bahwa konten negatif di media sosial tak bisa diatasi dengan cara blokir saja. Akan tetapi, dibutuhkan produksi konten-konten positif yang melibatkan semua pihak, termasuk humas.
"Berita hoax tak hanya bisa dilakukan dengan blokir-blokir saja, humas harus mampu memilih dan memilah informasi dengan cara kita memberikan informasi dan konten positif. Peran humas sangat besar," kata Rudiantara.
Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo juga angkat suara mengenai menjamurnya berita hoax di masyarakat. Dia mengatakan terdapat ciri-ciri berita hoax.
Pertama, hoax bisa mengakibatkan kecemasan, kebencian dan permusuhan. Kedua, sumber beritanya tidak jelas, medianya tidak terverifikasi, tak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak tertentu. Ketiga, hoaks juga bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul dan pengantarnya provokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data.
"Yang ada di media sosial itu informasi, belum terverifikasi kebenarannya. Oleh karena itu, jika ada berita di medsos, baca dengan teliti, klarifikasi kebenarannya, verifikasi dengan cara membandingkan berita yang sama dari sumber berbeda, jangan langsung diterima atau disebar ulang," demikian kata Yosep.